Rabu, 13 Juli 2011

Mekanisme Pertahanan Ego

MEKANISME
PERTAHANAN EGO










OLEH :
MIFTAH ISTIFARDA
(0911011050)
Semester 4A



PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2010-2011

Dalam ilmu psikiatri, mekanisme pertahanan diri (self-defense mechanism) merupakan salah satu bentuk penyesuaian diri untuk melindungi seorang individu dari kecemasan, meringankan penderitaan saat mengalami kegagalan, dan untuk menjaga harga diri.
Beberapa mekanisme pertahanan diri antara lain:
1. Sublimasi
Mengganti keinginan atau tujuan yang terhambat dengan cara yang dapat diterima oleh masyarakat. Misalnya, kehilangan pacar disalurkan menjadi novel percintaan, dsb.

2. Proyeksi
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.
Dalam proyeksi seseorang mengatakan: ”Dia membenci saya” sebagai pengganti ”Saya membenci dia”. Seorang suami yang baik dan jujur merasa tertarik dengan wanita tetangga. Tapi dia tidak menyadari atau mengakui apa yang dirasakan, namun malah menuduh istrinya selingkuh dengan pria lain.
3. Represi
Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.

Misalnya melupakan suatu pengalaman traumatik (amnesia). Keinginan yang direpresi dapat muncul kembali bila pertahanan diri melemah atau saat mabuk dan tidur.
4. Regresi
Mekanisme dengan kembali ke masa-masa perkembangan yang telah dilewati, di mana seseorang mengalami tekanan psikologis. Ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kecemasan, perilaku sering menjadi kekanak-kanakan atau mundur seperti di masa lalu pada saat mengalami kenyamanan. Seorang anak akan menghisap jempolnya lagi atau ngompol di kasur seperti pada masa balita, saat dibawa ke dokter untuk disuntik. Anak remaja putera tersenyum malu-malu saat akan dibawa ke sebuah kegiatan yang melibatkan remaja putri. Seorang mahasiswa membawa mainan masa kecilnya ke asrama.

5. Reaction formation
Bertingkah laku berlebihan yang bertentangan dengan keinginan atau perasaan sebenarnya. Misalnya, pantang membicarakan seks karena dorongan seks yang kuat atau terlalu banyak protes yang berarti sama saja mengakui kesalahan diri sendiri.
6. Undoing
Menghilangkan pikiran atau impuls yang tidak baik, seolah-olah menghapus suatu kesalahan. Misalnya, pacar yang berselingkuh tiba-tiba bertindak manis di depan kekasihnya dengan demikian ia merasakan ketidaksetiaannya terhapus.
7. Displacement
Mengalihkan emosi, arti simbolik atau fantasi sumber yang sebenarnya ke orang lain, benda ataupun keadaan lain. Misalnya, seorang karyawan dimarahi oleh bosnya kemudian saat pulang ke rumah ia marah-marah pada istri dan anaknya.
8. Acting out
Langsung menguratakan perasaan bila keinginan terhambat. Misalnya, kehilangan pacar disalurkan menjadi novel percintaan, dsb.
Denial
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan.
9. Kompensasi
Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.
10. Rasionalisasi
Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan/membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima. Misalnya bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut.


11. Fiksasi
Berhenti pada tingkah perkembangan satu aspek tertentu (emosi, tingkah laku atau pikiran) sehingga perkembangan selanjutnya terhalang. Misalnya, bersikap kekanak-kanakan, atau selalu mengharapkan bantuan dari orang lain.
12. Simbolisasi
Menggunakan benda atau tingkah laku sebagai simbol pengganti suatu keadaan yang sebenarnya. Misalnya, seorang anak selalu mencuci tangan untuk menghilangkan kegelisahannya, setelah ditelusuri ternyata ia melakukan masturbasi sehingga merasa berdosa atau cemas.
13. Disosiasi
Keadaan dimana seorang individu memiliki dua kepribadian. Kepribadian primer adalah yang asli; dan sekunder berasal dari unsur lain terlepas dari kontrol kesadaran individu tersebut dan memiliki kesadaran sendiri.
14. Konversi
Transformasi konflik emosional ke dalam bentuk gejala jasmani. Misalnya, seseorang tiba-tiba tidak dapat bersuara.
Seseorang dinyatakan mengalami gangguan jiwa tergantung pada lama, frekuensi dan intensitas suatu gejala perilaku psikologis. Sindrom tersebut dapat berupa gelisah, cemas, sedih, sulit tidur, nyeri, disfungsi organ, dsb, dan disfungsi tersebut membuatnya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, jika hanya mengalami gejala-gejala tersebut, tidak dapat digolongkan sebagai gangguan jiwa.
15. Fantasi
Khayalan yg memuaskan keinginan dan kebutuhan yg tidak dimiliki dalam realita. Contoh anak menghayal jadi superman
16. Identifikasi
Mekanisme dengan membawa kepribadian orang lain masuk ke dalam diri sendiri, karena dengan begitu dapat menyelesaikan masalah perasaan yang mengganggunya. Mekanisme ini sangat penting dalam teori kepribadian Psikoanalisa sebagai mekanisme yang dibentuk oleh Super Ego.
Misal: Anak-anak remaja sering mengidentifikasi diri dengan bintang-bintang favorit, musisi, artis, atlet, dan sebagainya, untuk meneguhkan identitas diri. Mekanisme identifikasi secara ekstrim, yaitu seorang wanita setelah suaminya meninggal, dia mulai memakai pakaian suaminya, yang tentu saja tidak pantas. Kemudian mengerjakan kebiasan-kebiasaan mendiang ketika hidup, seperti merokok. Para tetangga mengatakan tingkahnya aneh dan harus dihentikan, namun wanita tidak menghiraukan. Perilaku aneh ini berakhir dengan sendirinya setelah menikah lagi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar