Senin, 25 Oktober 2010

Laporan Pendahuluan Konsep Diri

Disusun Oleh:
ABDUL AZIZ A. (0911011012)
SEMESTER III A




FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2009-2010


DAFTAR ISI

Halaman Sampul
Kata Pengantar
Daftar Isi
1. Konsep diri .............................................................................................. 4
2. Asuhan Keperawatan pada Konsep Diri ................................................. 8
Daftar Pustaka
















































KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya pada saya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah Laporan Pendahuluan Konsep Diri tepat waktu.
Makalah ini saya susun dengan tujuan agar kita sebagai perawat mampu membuat Laporan Pendahuluan. Saat kita nanti bekerja di rumah sakit, Laporan Pendahuluan selalu dibuat sebelum ASKEP di buat. Jadi, adalah sangat penting jika kita bisa membuat Laporan Pendahuluan.
Terima kasih saya ucapkan pada Ns. Sofia Rhosma yang telah membimbing saya dalam penyelesaian makalah ini. Tak luput pula pada teman-teman yang telah memberikan semangatnya pada saya.
Tak ada gading yang tak retak, begitu pula dengan makalah ini. Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dapat memberikan motivasi bagi saya dalam pembuatan makalah berikutnya.
Terima kasih.



Penulis





















PENGERTIAN KONSEP DIRI
Konsep diri (self-concept) merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak di dapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Kensep diri ini berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan psikososial seseorang.
Sebagai sebuah konstruk psikologi , konsep diri didefenisikan secara berbeda oleh para ahli. Seifert dan Hoffnung (1994), misalnya, mendefiniskan konsep diri sebagai “suatu pemahaman mengenai diri arau ide tentang diri sendiri” . Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evaluasi bidang tertentu dari diri sendiri. Sementara itu, Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirinya. Selanjutnya, Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk. Pertama, body image, kesadaran tentang tubuhnya, yaitu bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri. Kedua, ideal self, yaitu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya. Ketiga, social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.
Menurut Burns (1982), konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri. Sedangkan Pemily (dalam Atwater; 1984), mendefisikan konsep diri sebagai system yang dinamis dan kompleks dari keyakinan yang dimiliki seseorang tentang dirinya, termasuk sikap, perasaan, persepsi, nilai-nilai dan tingkah laku yang unik dari individu tersebut. Sementara itu, Cawagas (1983) menjelaskan bahwa konsep diri mencakup keseluruhan pandangan individu akan dimensi fisiknya, karakteristik pribadi nya, motivasinya, kelemahannya, kelebihannya atau kecakapannya, kegagalannya, dan sebagainya.
Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat memengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide dan tujuan.

KOMPONEN KONSEP DIRI
Gambaran (Citra) Diri
Gambaran atau citra diri (body image) mencakup sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur dan fungsinya. Perasaan mengenai citra diri meliputi hal-hal yang terkait dengan seksualitas, femininitas dan maskulinitas, keremajaan, kesehatan dan kekuatan. Citra mental tersebut tidak selalu konsisten dengan struktur atau penampilan fisik yang sesungguhnya. Beberapa kelainan citra diri. Beberapa kelainan citra diri memiliki akar psikologi yang dalam, misalnya kelainan pola makan seperti anoreksia.
Citra diri dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik. Perubahan perkembangan yang normal seperti pubertas dan penuaan terlihat lebih jelas terhadap citra diri dibandingkan dengan aspek-aspek konsep diri lainnya.
Selain itu, citra diri juga dipengaruhi oleh nilai sosial budaya. Budaya dan masyarakat menentukan norma-norma yang diterima luas mengenai citra diri dan dapat mempengaruhi sikap seseorang, misalnya berat tubuh yang ideal, warna kulit, tindik tubuh serta tato, dan sebagainya.

Harga Diri
Menurut Santrock (1998), self-esteem adalah dimensi penilaian yang menyeluruh dari diri. Self-esteem juga sering disebut dengan self-worth atau self-image. Sedangkan, self-concept adalah penilaian terhadap domain yang spesifik.
Coopersmith (1967) dalam karya klasifiknya The Antecedents of Self-Esteem , mendefinisikan harga diri (self-esteem) sebagai berikut: Self-esteem refers to the evaluation that individual makes and customarily maintains with regard to himself: it expresses an attitude of approval or disapprobal and indicates the extent to which the individuals believes himself to be capable, significant, successful, and worthy.
Harga diri (self-esteem) adalah penilaian individu tentang dirinya dengan menganalisis kesesuaian antara perilaku dan ideal diri yang lain. Harga diri dapat diperoleh melalui penghargaan dari diri sendiri maupun dari orang lain. Perkembangan harga diri juga ditentukan oleh perasaan diterima, dicintai, dihormati orang lain, serta keberhasilan yang pernah dicapai individu dalam hidupnya

Peran
Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat ( Keliat, 1992 ). Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak punya pilihan, sedangkan peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu. Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri.
Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan ( Keliat, 1992 ). Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak. Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus di lakukan menurut Stuart and sundeen, 1998 adalah :
1. Kejelasan prilaku dengan penghargaan yang sesuai dengan peran.
2. Konsisten respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan .
3. Kesesuain dan keseimbangan antara peran yang di emban.
4. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran.
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan oleh masyarakat yang sesuai dengan fungsi yang ada dalam masyarakat atau suatu pola sikap, perilaku, nilai, dan tujuan yang dharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat, misalnya sebagai orang tua, atasan, teman dekat, dan sebagainya. Setiap peran berhubungan dengan pemenuhan harapan-harapan tertentu. Apabila harapan tersebut dapat dipenuhi, rasa percaya diri seseorang akan meningkat. Sebaliknya, kegagalan untuk memenuhi harapan atas peran dapat menyebabkan penurunan harga diri atau terganggunya konsep diri seseorang.

Identitas Diri
Identitas adalah kesadarn akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 1991). Seseorang yang mempunyai perasaan identitas diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam identitas adalah jenis kelamin (Keliat,1992). Identitas jenis kelamin berkembang sejak lahir secara bertahap dimulai dengan konsep laki-laki dan wanita banyak dipengaruhi oleh pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap masing-masing jenis kelamin tersebut.
Identitas diri adalah penilaian individu tentang dirinya sebagai suatu kesatuan yang utuh. Identitas mencakup konsistensi seseorang sepanjang waktu dan dalam berbagai keadaan serta menyiratkan perbedaan atau keunikan dibandingkan dengan orang lain. Identitas sering kali didapat melalui pengamatan sendiri dan dari apa yang didengar seseorang dari orang lain mengenai dirinya.
Pembentukan identitas sangat diperlukan demi hubungan intim karena identitas seseorang dinyatakan dalam hubungannya dengan orang lain. Seksualitas merupakan bagian dari identitas. Identitas seksual merupakan konseptualitas seseorang atas dirinya sebagai pria atau wanita dan mencakup orientasi seksual.

TAHAP PERKEMBANGAN KONSEP DIRI
Menurut teori psikososial, perkembangan konsep diri dapat dibagi ke dalam beberapa tahap, yaitu:
1-1 Tahun
 Menumbuhkan rasa percaya dari konsistensi dalam interaksi pengasuhan dan pemeliharaan yang dilakukan oleh orang tua atau orang lain.
 Membedakan dirinya dari lingkungan.
3-3 Tahun
 Mulai menyatakan apa yang disukai dan apa yang tidak disukai
 Meningkatkan kemandirian dalam berpikir dan bertindak
 Menghargai penampilan dan fungsi tubuh
 Mengembangkan diri dengan mencontoh orang yang dikagumi, meniru dan berossialisasi.
3-6 Tahun
 Memiliki inisiatif
 Mengenali jenis kelamin
 Meningkatnya kesadaran diri
 Meningkatkan keterampilan berbahasa, termasuk pengenalan akan perasaan seperti senang, kecewa dan sebagainya.
 Sensitif terhadap umpan balik dari keluarga
6-12 Tahun
 Menggabungkan umpan balik dari teman sebaya dan guru, keluarga tidak lagi dominan.
 Meningkatnya harga diri dengan penguasaan keterampilan baru (misalnya membaca, matematika, olahraga, musik)
 Menguatnya identitas seksual
 Menyadari kekuatan dan kelemahan
12-20 Tahun
 Menerima perubahan tubuh/kedewasaan
 Belajar tentang sikap, nilai dan keyakinan; menentukan tujuan masa depan
 Merasa positif atas berkembangnya konsep diri
 Berinteraksi dengan orang-orang yang menurutnya menarik secara seksual dan intelektual
20-40 Tahun
 Memiliki hubungan yang intim dengan keluarga dan orang lain
 Memiliki perasaan yang stabil dan posotif mengenai diri
 Mengalami keberhasilan transisi peran dan meningkatnya tanggung jawab
40-60 Tahun
 Dapat menerima perubahan penampilan dan ketahanan fisik
 Mengevaluasi ulang tujuan hidup
 Merasa nyaman dengan proses penuaan
Di Atas 60 Tahun
 Merasa positif mengenai hidup dan makna kehidupan
 Berkeinginan untuk meninggalkan warisan bagi generasi berikutnya

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOSEP DIRI
Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan fisik dan psikologis. Lingkungan fisik adalah segala sarana yang dapat menunjang perkembangan konsep diri, sedangkan lingkungan psikologis adalah segala lingkungan yang dapat menunjang kenyamanan dan perbaikan psikologis yang dapat memengaruhi perkembangan konsep diri.
Pengalaman Masa Lalu
Adanya umpan balik dari orang-orang penting, situasi stresor sebelumnya, pernghargaan diri dan pengalama sukses atau gagal sebelumnya, pengalaman penting dalam hidup, atau faktor yang berkaitan dengan masalah stresor, usia, sakit yang diderita, atau trauma, semuanya dapat memengaruhi perkembangan konsep diri.
Tingkat Tumbuh Kembang
Adanya dukungan mental yang cukup akan membentuk konsep diri yang cukup baik. Sebaliknya, kegagalan selama masa tumbuh kembang akan membentuk konsep diri yang kurang memadai.



ASUHAN KEPERAWATAN PADA KONSEP DIRI
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian terhadap masalah konsep diri adalah persepsi individu atau pola konsep diri, pola berhubungan atau peran, pola reproduksi, koping terhadap stres, serta adanya nilai keyakinan dan tanda-tanda ke arah perubahan fisik, seeprti kecemasan, ketakutan, rasa marah, rasa bersalah dan lain-lain.
B. Diagnosis Keperawatan
1. Gangguan konsep diri (gambaran diri) dikarenakan perubahan fisik atau kehilangan bagian tubuh.
2. Gangguan konsep diri (harga diri) dikarenakan harapan diri yang tidak realistis.
3. Gangguan konsep diri (identitas diri) dikarenakan harapan orang tua yang tidak realistis.
4. Gangguan konsep diri (peran) dikarenakan ketidakmampuan menerima peran dan pekerjaan baru di masyarakat.
C. Perencanaan dan Tindakan Keperawatan
1. Meningkatkan gambaran (citra) diri pasien, dengan cara:
 Menciptakan hubungan saling percaya dengan mendorong pasien untuk membicarakan perasaan tentang dirinya.
 Meningkatkan interaksi sosial dengan cara membantu pasien untuk menerima pertolongan dari orang lain, mendorong pasien untuk melakukan aktivitas sosial, menerima keadaan dirinya dan lain-lain.
 Bila terjadi perubahan atau kehilangan fungsi tubuh, berikan pemahaman tentang arti kehilangan. Mendorong pasien berinteraksi terhadap kehilangan dan menggali alternatif yang nyata guna membantu mengatasinya.
2. Meningkatkan harga diri pasien dengan cara:
 Membantu pasien untuk mengurangi katergantungan dengan bersikap mandukung dan menerima. Memberi kesadaran pada pasien akan pentingnya keinginan atau semangat hidup tinggi.
 Meningkatkan sensivitas pasien akan dirinya dengan memberi perhatian, membangun harga diri dengan memberikan umpan balik positif atas penyelesaian yang dicapai, menghargai privasi, dan mendorong pasien untuk melakukan latihan yang membangkitkan harga diri.
 Membantu pasien mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mendorong mengungkapkan perasaan, baik positif maupun negatif.
 Memberi kesempatan untuk melakukan aktivitas sosial yang positif. Mendorong pasien untuk berhubungan dengan teman atau kerabat dekat dan terlibat dengan aktivitas sosial. Jangan biarkan pasien mengisolasi diri.
 Memberi kesempatan mengembangkan keterampilan sosial dan vokasional dengan cara mendorong sikap optimis dan berpartisipasi dengan segala aktivitas.
3. Memperbaiki identitas diri pasien, dengan cara:
 Mengenal diri sendiri sebagai bagian dari tubuh dan terpisah dengan orang lain.
 Mengakui seksualitasnya sendiri.
 Memandang berbagai aspek dalam dirinya sebagai suatu keselarasan.
 Menilai diri sendiri sesuai penilaian masyarakat.
4. Meningkatkan atau memperbaiki peran pasien, dengan cara:
 Membantu meningkatkan kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran.
 Mempertahankan kosistensi terhadap peran yang dilakukan.
 Menyesuaikan antara peran yang diemban.
 Menyelaraskan antara budaya dan harapan terhadap perilaku peran.
D. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi terhadap masalah konsep diri secara umum dapat dinilai dari kemampuan untuk menerima diri, menghargai diri, melakukan peran yang sesuai, dan mampu menunjukkan identitas diri.


























DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta:Salemba Medika.
Carpenito, Lynda Juall dan moyet. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 10. Jakarta:EGC
Rohmah, Nikmatur dan Syaiful Walid. 2009. Proses Keperawatan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2006. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta:Salemba Medika.
http://keperawatanadil.blogspot.com/2008/06/gangguan-konsep-diri.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar